Kamis, 24 Februari 2011

Masyarakat petani dan kebudayaan

Ilmu antropologi sosial bersumber dari berjenis-jenis pengalaman seorang antropolog secara pribadi yang berdiam bersama beberapa bangsa terpencil yang tinggal dilembah, padang perburuan dan tempat yang purba. Harapan khas antropolog muda adalah pergi ketempat yang jauh untuk menemukan sebuah masyarakat manusia yang hidup serba seragam dan sangat patuh terhadap tradisi, untuk menemukan segala sesuatu mengenai kehidupan bangsa tersebut, dan melihat didalam masyarakat kecil itu sendiri apa yang relevan untuk dicari/dikaji.
Bila dipahami secara kebudayaan masyarakat primitif dilihat sebagai adat istiadat dan lembaga-lembaga didalam suatu pola kehidupan yang unik. Bila dipahami sebagai suatu masyarakat, dengan sedikit pengecualian satu-satunya yang terdapat langsung disana itu adalah hubungan-hubungan sosial yang dilukiskan didalam tubuh kecil bangsa. Dengan demikian muncullah konsep-konsep’’suatu kebudayaan’’,’’stuktur sosial’’,’’pola-pola dasar’’, dan holisme antropologis pada umumnya. Masyarakat primitif terasing adalah komunitas yang merupakan suatu keseluruhan dalam dirinya sendiri, kini menjadi abstraksi yang diambil dari banyak pengalaman yang mendekati abstraksi tersebut , menjadi model penelitian dan entitas tipikal untuk perbandingan dan generalisasi.
Robert redfield mendefenisikan masyarakat petani sebagai suatu tipe yaitu sebuah tipe yang didefenisikan secara bebas. Petani sebagai suatu tipe tidaklah berbeda sebagaimana burung-burung berbeda dari binatang-binatang pemamahbiak atau koloida dari kristal. Robert redfield memasukkan pemburu, nelayan, dan pengembala dalam satu defenisi yang sama yaitu masyarakat petani, karena bangsa-bangsa tersebut sekurang-kurangnya memiliki kesamaan dalam hal; pertanianya adalah suatu mata pencarian dan suatu cara kehidupan, bukan suatu kegiatan usaha untuk mencari keuntungan. Kita bisa mengatakan bahwa petani-petani yang mengerjakan pertanian untuk penanaman modal dan usaha, melihat tanahnya sebagai modal dan komoditi bukanlah petani akan tetapi pengusaha pertanian.
Dari titik mula semacam ini, seorang melihat petani sebagai seorang yang mengendalikan secara efektif sebidang tanah yang dia sendiri sudah lama terikat oleh ikatan-ikatan tradisi dan perasaan. Tanah dan dirinya adalah bagian dari satu hal, suatu kerangka hubungan yang telah berdiri lama. Cara berfikir seperti ini tidaklah menuntut petani agar dia memiliki tanah dan atau jenis-jenis penguasa tanah tertentu dan bentuk-bentuk institusional tertentu dengan kaum bangsawan atau orang-orang kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar